Senin, 06 Mei 2013

Hakekat Ilmu dalam Perspektif Islam


A.    Hakekat Ilmu dalam Perspektif Islam (Ilmu Mutlak dan Ilmu Mudawwan)
1.      Ilmu, ma’rifah dan hikmah dalam al-Qur’an
Kata “ilmu” berasal dari bahasa Arab,   " العلم ", yang secara etimologis berarti idrak (tangkapan), dan sering dipakai dalam arti yang sepadan dengan kata “sciere” dalam bahasa Yunani dan Latin yang menjadi “science” dalam bahasa Inggeris, yaitu knowledge atau pengetahuan.  Ia disebut dalam ratusan ayat al-Qur’an dan ratusan Hadis, sehingga menjadi sangat familier di kalangan ulama dan umat Islam selama berabad-abad menurut pengertiannya sendiri.
Ada tiga kata yang hampir semakna  dan terkait langsung dengan ilmu Kalam sehingga dalam kitab-kitab mantiq, kalam dan ushul fiqh  sering dibahas secara serius, yaitu kata ‘ilm (علم  ), ma’rifah (معرفة ) dan hikmah (حكمة ). Kata ‘ilm termasuk kata yang paling sering disebut dalam al-Qur’an. Ia disebut dalam ratusan ayat dengan enam bentuk, tiga fi’il (kata kerja) dan tiga ism (kata benda). Pertama, fi’il madli (kata kerja lampau), baik ma’lum (aktif) dengan pelaku orang pertama tunggal dan jamak (‘alimtu, ‘alimna), orang kedua tunggal dan jamak (‘alimta, ‘alimtum), dan orang ketiga tunggal dan jamak (‘alima/’alimat, ‘alimu), maupun majhul (pasif) dengan pengganti pelaku orang pertama jamak (‘ullimna), dan orang kedua tunggal dan jamak (‘ullimta, ‘ullimtum). Kedua, fi’il mudlari (kata kerja sekarang), baik ma’lum dengan pelaku orang pertama tunggal dan jamak (a’lamu, na’lamu), orang kedua tunggal dan jamak (ta’lamu, ta’lamuna), dan orang ketiga tunggal, dua dan jamak (ya’lamu, ya’lamuna, yu’allimu, yu’allimani, yu’allimuna), maupun majhul dengan pengganti pelaku orang ketiga tunggal (yu’lamu). Ketiga, fi’il amr (kata kerja perintah) dengan pelaku orang kedua tunggal dan jamak (i’lam, i’lamu). Keempat, ism mashdar (kata dasar) dengan nakirah (‘ilm) dan ma’rifah (al-‘ilm), baik umum (‘ilm/al-‘ilm) maupun dikaitkan dengan sesuatu (seperti ‘ilm al-akhirah). Kelima, ism fa’il (kata pelaku), yaitu ‘alim, al-‘alim, ‘allam, dan a’lam. Keenam,  ism maf’ul (kata obyek penderita), yaitu ma’lum, al-ma’lum, ma’lumat, dan mu’allam. Bentuk mashdar disebut misalnya dalam Q.S. 3 Ali ‘Imran ayat 18 :
yÎgx© ª!$# ¼çm¯Rr& Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd èps3Í´¯»n=yJø9$#ur (#qä9'ré&ur ÉOù=Ïèø9$# $JJͬ!$s% ÅÝó¡É)ø9$$Î/ 4 Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd âƒÍyêø9$# ÞOŠÅ6yÛø9$# ÇÊÑÈ  
Allah telah bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Dia, juga (telah bersaksi) para malaikat dan orang-orang yang memiliki ilmu seraya tegak merealisasikan keadilan, tidak ada Ilah selain Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Q.S. 3 Ali ‘Imran : 18).
Kata ‘arafa disebut dalam banyak ayat dengan empat bentuk, dua fi’il dan dua ism. Pertama, fi’il madli dalam bentuk ma’lum dengan pelaku orang pertama jamak (i’tarafna), orang kedua tunggal dan jamak (‘arafta, ‘araftum, i’taraftum), dan orang ketiga tunggal dan jamak (‘arafa, ‘arrafa, ‘arafu, i’tarafu). Kedua, fi’il mudlari dalam bentuk ma’lum dengan pelaku orang kedua tunggal dan jamak (ta’rifu, ta’rifuna) dan orang ketiga tunggal dan jamak (ya’rifuna, ya’rifu, yata’arafuna, ta’arafu), dan dalam bentuk majhul dengan pengganti pelaku orang ketiga tunggal dan jamak (yu’rafu, yu’rafna). Ketiga, ism mashdar berupa ‘urf dan a’raf. Keempat, ism maf’ul (ma’ruf, ma’rufah).
Kata hikmah disebut dalam ratusan ayat dengan enam bentuk, tiga fi’il dan tiga ism. Pertama, fi’il madli, baik ma’lum dengan pelaku orang kedua tunggal dan jamak (hakamta, hakamtum) dan orang ketiga tunggal (hakama), maupun majhul dengan pengganti pelaku orang ketiga tunggal (uhkimat). Kedua, fi’il mudlari’ dalam bentuk ma’lum dengan pelaku orang pertama tungal (ahkumu), orang kedua tunggal dan jamak (tahkumu, tahkumuna), dan orang ketiga tunggal, dua dan jamak (yahkumu, yahkumani, yahkumuna, yuhakkimuna, yuhakkimu, yatahakamuna, yuhkimu). Ketiga, fi’il amr dengan pelaku orang kedua tunggal (uhkum) dan orang ketiga tunggal (liyahkum). Keempat, ism mashdar berupa hukm atau al-hukm sebanyak 29 kali, dan hikmah atau al-hikmah sebanyak 20 kali. Kelima, ism fa’il (hakim, al-hakim, al-hakimin, hakam, ahkam, al-hukkam). Keenam, ism maf’ul (muhkamah, muhkamat). Bentuk mashdar disebut misalnya dalam Q.S. 2 al-Baqarah ayat 269 :
ÎA÷sムspyJò6Åsø9$# `tB âä!$t±o 4 `tBur |N÷sムspyJò6Åsø9$# ôs)sù uÎAré& #ZŽöyz #ZŽÏWŸ2 3 $tBur ㍞2¤tƒ HwÎ) (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇËÏÒÈ  
Dia memberikan al-hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan barangsiapa diberi al-hikah maka ia betul-betul telah diberi kebaikan yang banyak, dan tidaklah mengingat (hal itu) kecuali orang-orang yang memiliki akal (Q.S. 2 al-Baqarah : 269).
Dalam bentuk mashdar, kata ‘ilm  disebut 101 kali, kata hukm 29 kali, dan kata hikmah 20 kali, sedang ma’rifah dan ‘irfan tidak pernah disebut kecuali dengan kata ‘urf dan a’raf. Kata ‘arafa tidak pernah disebut dengan bentuk ism fa’il, dan dengan bentuk fi’il yang pelakunya Allah. Kata kerja hikmah/hukm, fa’il-nya hampir semuanya Allah, sedang kata ‘ilm,  fa’il dan ism fa’il-nya umum (Allah dan manusia). Dengan demikian, kata ma’rifat Allah tidak pernah berarti ilmu atau pengetahuan milik Allah, tapi selalu berarti ilmu atau pengetahuan manusia tentang atau mengenai Allah, yang untuk arti ini tidak bisa dipakai kata “’ilm Allah”. Sebaliknya, “’ilm Allah” selalu berarti ilmu milik Allah, tak pernah berarti ilmu atau pengetahuan tentang atau mengenai Allah, kecuali dengan memakai huruf tambahan  ba’ ta’diyah menjadi “al-‘ilm bi Allah”. Karena itu dalam buku ini kata “ma’rifat Allah” berarti “hal mengetahui atau pengetahuan manusia mengenai Allah”. Al-Qur’an tidak menjelaskan apalagi mendefinisikan hakekat ilmu, ma’rifah dan hikmah, dan tidak membatasi obyek serta metode dari ketiganya pada bidang atau jenis tertentu. Ini berarti, semua upaya manusia untuk menjelaskan hakekat, obyek dan metode dari ketiga term tersebut tidak dilarang sampai ada dalil sahih yang mengharamkan atau menyalahkannya.
Secara etimologis, kata ma’rifah/’arafah/’irfan semakna dengan kata ‘ilm yang berarti idrak (tangkapan), kecuali bahwa ma’rifah didahului ketiadaan sedang ‘ilm tidak mesti,[1] sehingga ketika menunjuk pengetahuan milik Allah al-Qur’an tidak pernah memakai kata ma’rifah seperti di atas, dan menurut al-Ghazali ma’rifah merupakan kata transitif yang mempunyai satu obyek, sedang ‘ilm kata transitif yang mempunyai dua obyek.[2] Dalam kitab al-Ghazali yang diragukan otentisitasnya dikatakan bahwa ma’rifah dalam arti bahasa adalah ilmu yang tak dapat diragukan.[3] Kata hikmah secara etimologis sering dihubungkan dengan hakamah yang berarti kekang kuda yang mencegahnya untuk menyalahi penunggangnya, atau pangkat dan derajat seseorang. Kemudian kaum Bayaniyyun (ahli Hadis, kalam dan fiqh) lebih senang memakai kata ‘ilm, kaum Burhaniyyun (filosof) lebih senang memakai kata hikmah, sedang kaum ‘Irfaniyyun (sufi) lebih senang memakai kata ma’rifah/’irfan. Selanjutnya dalam bab ini yang dimaksud dengan “ilmu” adalah ilmu manusia, bukan ilmu Allah kecuali dalam konteksnya.
Sebutan ma’rifah/’irfan dalam terminologi kaum sufi, yang obyeknya lebih terfokus pada masalah Allah dan dunia metafisis, sering mengandung makna arogansi yang memutlakkan kebenaran ma’rifah/’irfan  dan menyepelekan ilmu dan hikmah. Zu al-Nun al-Mishri (w. 245 H) memang hanya mengklasifikasikan ma’rifah kepada tiga macam secara gradual, yaitu : ma’rifat al-tauhid yang dimiliki umat Islam secara umum, ma’rifat al-hujjah wa al-bayan yang dimiliki filosof (hukama’), pujangga dan ulama, dan ma’rifat shifat al-wahdaniyyah yang khusus dimiliki para wali yang menyaksikan Allah dengan qalbu-nya.[4] Tetapi menurut kaum sufi umumnya sebagaimana dikutip al-Qusyairi (376-466 H), apa yang diperoleh dengan syarat burhan, yang dimiliki ahli akal  disebut “’ilm al-yaqin”, apa yang diperoleh dengan “hukm al-bayan” yang dimiliki pemilik ilmu disebut “’ain al-yaqin”, dan apa yang disifati dengan “al-‘iyan” yang dimiliki pemilik ma’rifah disebut “haq al-yaqin”.[5] Al-Hakim al-Turmudzi (w. 320 H) memakai term ‘ilm untuk ilmu lahir atau syari’ah, sedang ilmu batin atau batin ilmu disebut “hikmah”, dan hikmah tertinggi disebut “ma’rifah”.[6] Tesis al-Turmudzi yang menganggap syari’ah yang dibawa Nabi sebagai ilmu terendah,  hikmah yang diperoleh filosof sebagai ilmu menengah dan ma’rifah yang diperoleh sufi sebagai ilmu tertinggi ini tidak aneh, sebab bagi al-Turmudzi yang kemudian diikuti Ibn ‘Arabi, “khatam al-auliya’” (pamungkas semua wali) lebih tinggi derajatnya ketimbang “khatam al-anbiya’” (pamungkas semua Nabi).
Menurut al-Ghazali, yang mengkritik sufi arogan seperti itu, term ma’rifah sinonim dengan ‘ilm.[7] Ia tidak pernah membedakan ‘ilm dengan ma’rifah seperti dalam tradisi umumnya kaum sufi. Memang ia pernah menyebutkan bahwa secara etimologis ada sedikit perbedaan antara keduanya, dan tidak keberatan atas pemakaian term ma’rifah untuk “tashawwur” (konsep) dan ‘ilm untuk tashdiq (assent).[8] Tetapi dalam berbagai kitabnya ia sering memakai kedua term ini dalam arti yang sama.[9] Bahkan dalam kitab yang diragukan otentisitasnya ia menegaskan bahwa ma’rifah secara terminologis adalah nama lain bagi ilmu yang didahului dengan pemikiran, yang dalam arti ilmu perolehan yang jernih sehingga menjadi seperti ilmu daruri (a priori) identik dengan yaqin (keyakinan). Semua definisi ma’rifah dalam kitab ini dengan makna yang lain dari ilmu, hanyalah definisi kaum sufi yang, seperti ditegaskan al-Ghazali sendiri, diungkapkannya secara deskriptif.[10] Dan, bagi al-Ghazali, ilmu secara substansial hanya satu dalam arti tidak ada pemisahan kepada “ilmu lahir” dan “ilmu batin” kecuali dari segi obyeknya.[11] Begitu pula menurut al-Farabi dan Ibn Sina arti ma’rifah sama dengan ilmu.[12]
Kata hikmah dalam bahasa Arab dan tradisi ulama Islam mengandung banyak arti, sehingga dalam kamus al-Bahr al-Muhith disebutkan 29 pendapat.[13] Ia sering dipakai untuk arti “ucapan yang sesuai dengan kebenaran”, “ucapan yang logis dan terjaga dari kesalahan”, “ucapan yang tepat, benar dan mantap”, atau ilmu yang disertai amal. Kata ini sering dipakai untuk macam-macam makna seperti filsafat dan ilmu.[14] Al-Suddi dalam menafsirkan kata “hikmah” dalam al-Qur’an mengartikannya dengan nubuwwah (kenabian). Begitu pula Ibn ‘Abbas menurut riwayat Abu Shalih, sebab memang kata al-hikmah dalam al-Qur’an sering dirangkaikan langsung dengan  al-Kitab yang sama-sama dibawakan Nabi. Makna lain yang mendekati ini adalah “ilmu laduni”, atau “mengosongkan batin untuk datangnya ilham”. Dikatakan pula bahwa hikmah ada dua macam. Pertama, apa yang tampak dalam prilaku luar seseorang, seperti kokoh dan tepat dalam pendapat, tajam dalam berfikir dan konsisten pada jalan lurus dalam hidup. Kedua, dari sudut pancaran ilhami, yakni dari aspek dalam atau batin, yang hanya diketahui pemiliknya dan orang-orang khusus pilihannya dari kawan dan murid-murid tertentu. Tetapi kaum filosof muslim seperti al-Kindi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dan lainnya sering mengidentikkan hikmah dengan filsafat, meskipun al-Farabi ketika mengklasifikasikan ilmu memakai term “ilmu” sebagai pengganti term “filsafat”,[15] yang oleh Ibn Sina tetap disebut “hikmah”.[16]
Kata “falsafah” berasal dari bahasa Yunani, “philosophia” (dari kata philein =to love, itsar, cinta, dan sophia = wisdom, hikmah,  kebijaksanaan). Ia masuk ke dalam bahasa Arab menjadi “falsafah”, ke dalam bahasa Inggeris menjadi “philosophy”, dan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “filsafat dan falsafah”. Sedang ahli falsafah,  “philosophos”, dalam bahasa Arab menjadi “failasuf”, dalam bahasa Inggeris menjadi philosopher, dan dalam bahasa Indonesia menjadi filosof.
Menurut al-Farabi, falsafah adalah itsar al-hikmah (cinta hikmah), dan orangnya adalah yang menjadikan seluruh usaha dalam hidupnya dan tujuan dari umurnya adalah hikmah.[17] Tetapi apa itu hikmah ? Ibn Sina mendefinisikannya sebagai berikut :
الحكمة استكمال النفس الانسانية بتصور الأمور  والتصديق بالحقائق النظرية  والعملية على قدر الطاقة الانسانية.[18]
 Hikmah adalah menyempurnakan jiwa manusia dengan mengkonsepsi perkara-perkara dan membenarkan hakekat-hakekat teoritis dan praktis menurut kadar kemampuan kemanusiaan.
والحكمة خروج نفس الانسان الي كماله الممكن له في حدى العلم والعمل  أما فى جانب العلم فأن يكون متصورا للموجودات كما هى ومصدقا بالقضايا كما هى، وأما فى جانب العمل فأن يكون قد حصل عنده الخلق الذى يسمى العدالة. وربما قيل حكمة لاستكمال النفس الناطقة من جهة الاحاطة بالمعقولات النظرية والعملية وان لم يحصل خلق.[19]
Dan hikmah adalah keluarnya jiwa manusia kepada kesempurnaannya yang mungkin baginya dalam batasan ilmu dan amal. Adapun dalam segi ilmu adalah keadaannya mengkonsepsi obyek-obyek yang ada sebagaimana adanya dan membenarkan premis-premis sebagaimana adanya. Adapun dalam sisi amal adalah keadaannya telah terhasilkan padanya karakter yang disebut ‘adalah (adil). Dan kadang dikatakan hikmah bagi tercapainya kesempurnaan jiwa yang berfikir dari segi penguasaan obyek-obyek rasional teoritis dan praktis sekalipun belum menghasilkan karakter.
Hikmah yang tersusun dari kumpulan tashawwur (konsep) dan tashdiq (assent) itu, terdiri dari hikmah teoritis yaitu thabi’iyyat (fisika), riyadliyyat (matematika) dan ilahiyyat (metafisika), dan hikmah praktis yaitu khuluqiyyah, manziliyyah dan madaniyyah. Meskipun Ibn Sina menyebutkan bahwa sebagian bahan “hikmah” tersebut diambil dari isyarat “arbab al-millah al-Ilahiyyah” (para pemilik agama Ketuhanan) yang disempurnakan dengan kekuatan akal,[20] tetapi dengan kerangka seperti itu, di mana “hikmah” merupakan hasil kemampuan maksimal manusia dan dibangun di atas mantiq (logika peripatetik), jelas terlihat bahwa filsafat Ibn Sina yang disebutnya “hikmah” itu lebih merupakan sebuah bangunan filsafat atau ilmu sekuler ketimbang filsafat atau ilmu keagamaan yang sumber pokonya adalah nubuwwah (kenabian). Bagi kaum filosof muslim yang mengidentikkan filsafat dengan hikmah dan melegitimasinya dengan al-Qur’an seperti dalam surat al-Nahl ayat 125, hikmah yaitu filsafat dianggap sebagai ilmu tertinggi yang diperoleh dengan metode burhani (demonstratif) yang dimiliki filosof, kemudian ilmu yang diperoleh dengan metode jadali (dialektis) yang dimiliki mutakallim, dan terendah  ilmu yang diperoleh dengan metode khithabi (retorik) yang dimiliki selain filosof dan mutakallim. Tentu saja kaum sufi dan ahli Hadis marah dengannya.
Menurut Ibn Taimiyyah, hikmah adalah nama yang mencakup ilmu dan pengamalan pada setiap umat. Menurutnya, setiap umat, seperti Arab jahiliyah, India dan Yunani yang semuanya musyrik, memiliki hikmah yang sesuai dengan ilmu dan agamanya sendiri, dan hukama’ setiap umat merupakan tokoh paling utama dari umat itu dalam ilmu dan amalnya. Tetapi tidak berarti mereka terpuji di sisi Allah dan Rasul-Nya. Yang terpuji di sisi Allah dan Rasul-Nya hanyalah hikmah dari orang-orang mukmin dan muslim, yaitu yang beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir dan menyembah hanya kepada Allah semata.[21] Atau, hikmah adalah mengetahui haq (kebenaran) dan mengamalkannya. Oleh sebab itu ia menolak tesis filosof muslim bahwa yang dimaksud dengan hikmah, mujadalah dan mau’izah hasanah dalam Q.S. al-Nahl ayat 125 itu adalah ilmu burhani, jadali dan khithabi. Menurutnya, manusia ada tiga model, yaitu yang mengetahui haq dan mengamalkannya, yang mengetahui haq tetapi tidak mengamalkannya, dan yang tidak mengetahui haq bahkan menentangnya. Model pertama, yang paling utama, adalah obyek dakwah dengan hikmah, model kedua obyek dakwah dengan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik), dan model ketiga adalah obyek mujadalah (debat, apologi dan polemik), bukan obyek dakwah dengan kedua metode tersebut, di mana mujadalah termasuk “bela diri” (daf’u al-sha’il).[22] Di tempat lain, ia mengatakan bahwa hikmah dalam al-Qur’an adalah mengetahui haq, mengucapkan dan mengamalkannya, dan ia merupakan bagian dari  petunjuk yang dibawakan Rasul sehingga hadis Rasul pun disebut hikmah sebagai penjelas (bayan) al-Kitab.[23] Dengan demikian, bagi Ibn Taimiyyah mengetahui dan meyakini kebenaran syari’ah dalam arti din al-Islam yang dibawa Rasul yang merupakan haq itu, termasuk dalam aspek Ketuhanan (Ilahiyat), adalah ilmu dan ma’rifah haqiqiyyah, yang bila disertai pengamalannya disebut hikmah tertinggi.
 Dengan menunjuk pemakaian al-Qur’an terhadap kata hikmah dan kenyataannya tidak pernah memakai kata ma’rifah/’irfan, dan dengan menunjuk arti etimologis kedua term tersebut, dapat disimpulkan bahwa term “hikmah” tidak identik dengan “falsafah” dan term ma’rifah tidak identik dengan ilmu kasyfi atau gnostik. Karena itu filsafat tidak bisa diidentikkan dengan hikmah yang ditunjuk al-Qur’an, apalagi dilegitimasi dengan ayat al-Qur’an seperti dalam surat al-Nahl ayat 125 di atas.[24] Kalaulah arti asal “filsafat” adalah mencintai sophia atau hikmah, maka sophia atau hikmah itu merupakan obyek dan hasil yang diperoleh, baik dengan metode dan proses “philo” (filsafat dan kalam sebagai metode dan proses rasional serta tasawuf sebagai metode dan proses intuitif), maupun dengan informasi kewahyuan (dalil naqli, yang terakhir adalah al-Qur’an dan Hadis shahih). Intinya, hikmah adalah mengetahui atau pengetahuan tentang obyek sebagaimana realitasnya sendiri, yang disebut ilmu atau haq dan mengamalkan pengetahuan itu sebagaimana mestinya. Dengan demikian, ilmu atau ma’rifah dalam arti haq merupakan aspek teoritis dari hikmah. Dan tidak ada masalah apabila obyek ma’rifah dan hikmah itu difokuskan pada masalah Ketuhanan dan dunia metafisis sehingga ia disebut ilmu Ketuhanan (ilahiyyat, theologi atau lainnya) sebagai bagian dari ilmu secara keseluruhan, dengan catatan bahwa hikmah sudah mengandung aspek pengamalan ilmu Ketuhanan tersebut. Dalam arti khusus dari segi ontologi (bagian Ilahiyyat) dan dari segi epistemologi (bagian rasional) ini dapat diakui tesis ‘Abd al-Halim Mahmud bahwa hikmah adalah “mengetahui Allah, yang sudah mencakup mengetahui dan mengamalkan kebaikan, dan filsafat merupakan jalannya”,[25] yakni jalan pelengkap sesudah dan selama tidak kontradiksi dengan wahyu sehingga aspek teoritis dari hikmah itu bisa disebut ilmu atau haq, dan jalannya bisa disebut jalan (metodologi dan proses) ilmiah.


[1] Al-Jurjani, Kitab al-Ta’rifat, (Singapur-Jidah : al-Haramain, t.t.), hal. 221.
[2] Al-Ghazali, Mahk al-Nazhr fi al-Manthiq, (Beirut : Dar al-Nahdlah al-Haditsah, 1966),  hal. 9.
[3] Al-Ghazali, Raudlat al-Thalibin, hal. 36.

[4] Abu al-Wafa al-Taftazani, Madkhal ila al-Tashawwuf al-Islami, Dar al-Tsaqafah, Kairo, 1975, hal. 100.
[5] ‘Abd al-Karim al-Qusyairi, al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf, Maktabah Muhammad ‘Ali Shabih wa Auladuh, Kairo, t.t., hal. 44 dan 180.
[6] Muhammad Ibrahim al-Juyusyi, al-Hakim al-Turmudzi, Muhammad ibn ‘Ali al-Turmudzi Dirasah li Atsarihi wa Afkarihi, Dar al-Nahdlah al-‘Arabiyyah, Kairo, t.t., hal. 261-294.
[7] Al-Ghazali, Mahk al-Nazhr, hal. 102-135 dan al-Mustashfa, jld. I, hal. 11-25.
[8] Al-Ghazali, Mahk al-Nazhr, hal. 8-10.
[9] Misalnya dalam Ihya’, jld. IV, hal. 300 dan  al-Mustashfa, jld. I, hal. 9-11, 24-25 dan 54.
[10] Al-Ghazali, Raudlat al-Thalibin, hal. 36-39.
[11] Al-Ghazali, al-Mustashfa, jld. I, hal. 145.
[12] Lihat al-Farabi, al-Burhan, dalam Majid Fakhry, ed, al-Manthiq ‘ind al-Farabi, (Mesir : Dar al-Masyriq, 1987), hal. 19-94, dan Ibn Sina, al-Burhan, (Kairo : Dar al-Nahdlah al-‘Arabiyyah, t.t.), khususnya hal. 189-191, dan al-Najat fi al-Manthiq wa al-Ilahiyyat, (Beirut : Dar al-Jail, 1412 H/1992 M, (selanjutnya disebut Ibn Sina, al-Najat).
[13] ‘Abd al-Halim Mahmud, al-Tafkir al-Falsafi fi al-Islam, (Kairo : Dar al-Ma’arif, t.t.), hal. 167.
[14] Al-Jurjani, op cit, hal. 91-92. Louis Ma’luf dalam al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam, Dar al-Masyriq, Beirut, cet. XXVIII, 1986, hal. 146,  hanya menyebutkan arti etimologis, tidak menunjuk pemakaian untuk arti filsafat dan ilmu.
[15] Al-Farabi dalam Ihsha’ al-‘Ulum dan al-Tanbih ‘ala Sabil al-Sa’adah, dikutip melalui Kamil Kamil Bakri, et al, “Muqaddamat al-Tahqiq” dalam Tasy Kubra, Ahmad ibn Musthafa, Niftah al-Sa’adah wa Mishbah al-Siyadah fi Maudlu’at al-‘Ulum,  (Kairo : Dar al-Kutub al-Haditsah, t.t.), I, hal. 50-54.
[16] Ibn Sina dalam  al-Syifa dan Risalah fi Aqsam al-‘Ulum al-‘Aqliyyah, dikutip melalui Muhammad ibn Isma’il, “al-Muqaddamah” dalam al-Mar’asyi, Sajuqli Zadah, Tartib al-‘Ulum, (Beirut : Dar al-Basya’ir al-Islamiyyah, t.t., hal. 27-30.
[17] ‘Abd al-Halim Mahmud, op cit, mengutip Ibn Abi Ushaibi’ah, juz II, hal. 164,
[18] Ibid, hal. 164-165, mengutip Ibn Sina, Risalat al-Thabi’iyyat.
[19] Ibn Sina, al-Burhan, ed. ‘Abd al-Rahman Badawi, (Kairo : Dar al-Nahdlah al-‘Arabiyah, 1966), hal. 192.
[20] ‘Abd al-Halim Mahmud, op cit, hal. 164-165.
[21] Ibn Taimiyyah, al-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin, hal. 447.
[22] Ibid, hal. 444-469, dan Majmu’ Fatawa, II, hal. 42-45.
[23] Ibn Taimiyyah, Majmu’ Fatawa, jld. IXX, hal. 82 dan 164-176.
[24] Pengidentifikasian ini dilakukan semua filosof muslim sejak al-Kindi sampai dengan al-Thusi Ibn Rusyd melakukan kesalahan fatal dengan kitabnya Fashl al-Maqal fi Ma bain al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal, (hikmah identik dengan filsafat dengan legitimasi Q.S. al-Nahl ayat 125 tsb.).
[25] ‘Abd al-Halim Mahmud, op cit, hal. 167-169.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar